Update

Isra Mikraj 1447 H, Menag Ajak Umat Islam Berhenti Merusak Alam

Masjid dalam kompleks Pesantren Darul Mukhlisin di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang dipenuhi kayu sisa bencana banjir akhir November 2025. [Foto: The Aceh Post]

Aceh Today, Banda Aceh - Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa peringatan Isra Mikraj 1447 Hijriah harus menjadi titik balik kesadaran ekologis umat Islam. Ia menyerukan pertobatan ekologis sebagai wujud nyata kesalehan yang tidak berhenti pada ritual, tetapi menjelma dalam kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan sosial.

Pesan tersebut disampaikannya dalam Peringatan Isra Mikraj di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis malam (15/1).

“Menjadi khalifah berarti menjaga amanah, bukan mengeksploitasi bumi secara serakah. Isra Mikraj layak kita maknai sebagai momentum pertobatan ekologis, berhenti merusak, mulai merawat, dan menghadirkan rahmat bagi alam semesta,” katanya.

Nasaruddin Umar menjelaskan, Isra Mikraj mengajarkan bahwa puncak spiritualitas tidak berhenti di langit, tetapi harus berdampak di bumi. 

Nabi Muhammad SAW, kata dia, memilih kembali ke dunia untuk menebar rahmat, meski telah mencapai Sidratul Muntaha.

“Spirit langit harus menjelma menjadi aksi bumi. Salat yang khusyuk seharusnya melahirkan sikap hemat air, cinta kebersihan, dan enggan merusak alam. Di situlah iman menemukan relevansinya,” ujarnya.

Ia mencontohkan ajaran nabi tentang berhemat air saat berwudu sebagai praktik ibadah yang sarat pesan ekologis.

Nasruddin menyebut Masjid Istiqlal telah menerapkan prinsip ramah lingkungan hingga meraih sertifikat internasional EDGE dari Bank Dunia sebagai Green Mosque.

Dalam kesempatan itu, Menag juga mengajak masyarakat mendoakan dan membantu korban banjir dan longsor di sejumlah daerah. Menurutnya, bencana bukan sekadar ujian, tetapi peringatan keras agar manusia lebih bijak menjaga keseimbangan alam.

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image