Gus Baha: Aceh Adalah Gerbang Utama Islam Nusantara
Aceh Today, Banda Aceh – Kehadiran ulama kharismatik KH Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang akrab disapa Gus Baha, di Masjid Raya Baiturrahman (MRB) Banda Aceh, Rabu (11/2/2026), menjadi magnet bagi ribuan jemaah. Dalam kunjungan perdana ke Tanah Rencong ini, Gus Baha menyampaikan pesan yang sangat mendalam mengenai posisi strategis Aceh dalam peta sejarah Islam.
Kajian bertajuk Spesial Rabu Maghrib tersebut bukan sekadar pengajian biasa, melainkan sebuah pengakuan dari seorang ahli tafsir terhadap akar peradaban Islam di Nusantara.
Penghormatan untuk Sejarah Aceh
Gus Baha menegaskan bahwa kunjungannya kali ini memiliki misi khusus untuk memberikan penghormatan pada sejarah. Ia menyebutkan bahwa literatur sejarah Islam tidak bisa dilepaskan dari peran besar Aceh.
“Saya datang untuk mengakui bahwa semua versi sejarah menulis Islam pertama itu ada di Aceh,” ujar Gus Baha di hadapan jemaah yang memadati ikon sejarah dan peradaban Islam tersebut.
Sosok Ulama yang Sederhana namun Berilmu Luas
Bagi masyarakat Aceh, kehadiran Gus Baha merupakan momen langka. Sosok yang dikenal dengan ciri khas kemeja putih, sarung, dan peci hitam ini adalah murid kesayangan almarhum KH Maimun Zubair (Mbah Moen).
Keluasan ilmunya tidak hanya diakui di pesantren, tetapi juga di dunia akademis. Saat ini, Gus Baha mengasuh Pondok Pesantren LP3IA Narukan, Rembang, dan dipercaya sebagai Ketua Tim Lajnah Mushaf Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Gaya bicaranya yang lugas, ilmiah, namun mudah dipahami, membuat kajiannya selalu dinanti oleh berbagai lapisan masyarakat.
Disiarkan Secara Luas
Bagi masyarakat yang tidak bisa hadir langsung ke Masjid Raya Baiturrahman, kajian ini disiarkan secara langsung melalui berbagai kanal informasi:
- YouTube: Masjid Raya TV
- Radio: Radio Baiturrahman & RRI
Momen ini dinilai semakin memperkuat posisi Aceh sebagai pusat spiritual dan sejarah Islam yang tak tergantikan di Indonesia. Kehadiran Gus Baha di Aceh seolah menyambung kembali sanad keilmuan dan silaturahmi antara ulama Jawa dan ulama Sumatera yang telah terjalin selama berabad-abad.

