Ketika Seni Dianggap Sebuah Ancaman oleh Para Penguasa dan Kritik Mulai Dibungkam
Oleh: Melisha Auliya R
Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik, Universitas Malikussaleh
Lhokesumawe, Aceh Today - Akhir-akhir ini media sosial dihebohkan dengan film dokumenter pesta babi, sebuah karya seni yang membuat heboh dunia maya ini membuat banyak komunitas merencanakan acara nonton bareng dan membuka ruang diskusi. Tetapi acara yang sudah direncanakan dengan matang ini tidak berjalan dengan mulus.
Di beberapa daerah, acara nobar dan ruang diskusi ini justru dibubarkan oleh para aparat secara sepihak. Pembubaran ini menjadi bukti nyata rapuhnya ruang kebebasan berpendapat kita sekarang ini. Dari kejadian ini memunculkan banyaknya reaksi dan pertanyaan seperti “Mengapa sebuah karya seni membuat para penguasa ketakutan?”
Dari fenomena itu juga bisa akita lihat, sejak kapan sebuah karya seni film berubah menjadi sebuah ancaman yang berbahaya. Untuk memahami kejadian ini perlu kita pahami bahwa seni bukan hanya hiburan, melainkan sebagai cermin sosial yang jujur.
Film karya Dandhy Dwi Laksono dan antropolog Cypri Paju Dale ini hadir memotret realita yang ada di tanah papua selatan mulai dari deforestasi skala besar, dampak proyek food estated, hingga hilangnya ruang hidup masyarakat adat.
Pejabat publik mendadak gerah bukan karena film ini mengandung materi berbahaya, melainkan karena tayangan ini membongkar narasi kesuksesan yang selama ini pejabat pamerkan di publik. Sebuah seni akan sangat ditakuti Ketika ia bertindak sebagai alat pembebasan berpikir yang menelanjangi boroknya kebijakan agaria dan lingkungan secara telanjang.
Ketakutan yang berlebihan dari para pejabat ini kemudian sering kali dibungkus dengan narasi konspirasi atau tuduhan adanya Gerakan yang ditunggangi kepentingan asing. Melempar label konspirasi terhadap sebuah karya kritis sebenarnya hnayalah sebuah strategi klasik untuk mencari kambing hitam.
Menuduh sebuah film sebagai agenda provokasi jauh lebih mudah bagi pejabat untuk menghindari kritik, daripada harus menjawab fakta lapangan mengenai nasib masyarakat yang kehilangan tanah leluhurnya.
Sejarah telah berulang kali mencatat bahwa penguasa yang anti kritik selalu menempatkan seni intelektual sebagai musuh nomor satu. Seni dianggap berbahaya karena ia tidak bisa di negosiasikan, tidak bisa di control secara mutlak dan birokrasi.
Ketika semua lapisan masyarakat berkumpul untuk menonton lalu berdiskusi, di sanalah konslidasi nalar kritis yang sehat dibangun. pejabat yang panik buru buru membubarkan forum ini sebenarnya sedang mempertontonkan kerapuhan mentalitas mereka sendiri dalam menghadapi iklim demikrasi yang terbuka dan transparan.
Makna judul “pesta babi” yang diambil dari tradisi sacral masyarakat papua sebetulnaya adalah sebuah sindiran yang sangat menohok. Ketika hutan dibabat demi industry raksasa, film ini sebetulnya menyindir kesadaran kita: siapa yang berpesta sebenarnya diatas penderitaan warga local yang kian tersisih?
Pada akhirnya, membubarkan ruang diskusi film pesta babi dengan tuduhan konspirasi adalah bentuk kepanikan moral yang tidak mendasar. Seni tidak akan pernah bisa meruntuhkan sebuah negara, namun ia bisa mengusik tidur nyenyak para penguasa yang lalai akan hak hak rakyatnya.
Jika kekuasaaan terus dihadapi dengan pembungkaman, kita sedang menuju era kegelapan intlektual. Sudah saatnya pejabat publik menjawab kritik dengan adu data dan kebijakan yang pro rakyat.


