Update
Promo Website Ramadhan

Sahur di Atas Lantai Tanah: Kala Bupati Safaruddin Ketuk Pintu Gubuk Rumbia Warga Dini Hari

Aceh Today, Aceh Barat Daya – Pukul 03.00 WIB, Desa Padang Kawa masih dibalut sunyi yang pekat. Di sebuah rumah sederhana berdinding pelepah rumbia dan beratap rumbia milik Amran, lampu kuning temaram baru saja menyala. Keluarga kecil ini tengah bersiap menyambut waktu sahur ketika tiba-tiba sebuah ketukan pelan terdengar di pintu depan.

Begitu daun pintu terbuka, Amran terpaku. Di hadapannya berdiri seorang pria berkemeja dengan topi hitam tanpa pengawalan ketat protokoler. Sosok itu adalah Bupati Aceh Barat Daya, Safaruddin.

"Saya Makan Apa yang Kalian Makan"

Kehadiran sang Bupati yang mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya membuat Amran kikuk. Kondisi rumahnya jauh dari kata layak untuk menyambut seorang pejabat tinggi; lantainya hanya tanah yang dilapisi tikar plastik tipis, dan dinding rumbianya tak kuasa menahan dinginnya angin malam.

Namun, Safaruddin dengan tenang melangkah masuk dan duduk bersila di atas tikar plastik tersebut. "Lon pajoh peu yang awaknyo pajoh (Saya makan apa yang kalian makan)," ucapnya sambil tersenyum, seketika mencairkan suasana canggung yang sempat menyelimuti ruangan.

Terpukul Melihat Realitas Warga

Di tengah hidangan sahur yang seadanya, Safaruddin menyaksikan langsung getirnya kehidupan keluarga Amran. Amran yang bekerja serabutan harus menghidupi istri, dua anak kandung, serta seorang anak piatu yang ia asuh dengan penuh kasih sayang.

Usai bersantap, raut wajah Safaruddin nampak berubah. Ia tak kuasa menyembunyikan rasa sedihnya melihat masih ada warganya yang tinggal di rumah beralaskan tanah di tahun 2026 ini.

"Saya sedih. Pagi ini saya terpukul sekali. Rupanya masih ada saudara kita yang tinggal dalam kondisi rumah beralaskan tanah," ujarnya dengan suara lirih.

Janji kepada Sang Khalik

Kunjungan dini hari ini bukan sekadar agenda pencitraan bagi Safaruddin, melainkan sebuah refleksi batin. Di depan gubuk rumbia itu, ia mengucap janji yang ia sebut sebagai janji seorang hamba kepada Tuhannya.

"Ya Allah, ku janjikan pada Rabb-ku. Jika umur ini masih dipanjangkan dan rezekiku dimudahkan, aku tak ingin melihat mereka masih dalam kehidupan yang tak layak," ucap Safaruddin penuh haru.

Bagi keluarga Amran, sahur kali ini akan menjadi kenangan seumur hidup. Bukan karena menu makanannya, melainkan karena kehadiran seorang pemimpin yang mau turun langsung, duduk bersila di atas tanah, dan mendengarkan detak jantung kemiskinan warganya tanpa sekat jabatan.

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image